Rabu, 01 Desember 2010

Bakrie Telcom

A.PROFIL PERUSAHAAN
PT. Bakrie Telecom,tbk (IDX: BTEL) adalah perusahaan operator telekomunikasi berbasis CDMA di Indonesia. Yang didirikan di Jakarta, Indonesia. Yang berkembang dijaringan jasa dan telekomunikasi. Bakrie Telecom memiliki produk layanan dengan nama produk Esia serta Wifone.
Perusahaan ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Ratelindo, yang didirikan pada bulan Agustus 1993, sebagai anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk yang bergerak dalam bidang telekomunikasi di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat berbasis Extended Time Division Multiple Access (ETDMA). Pada bulan September 2003, PT Ratelindo berubah nama menjadi PT Bakrie Telecom, yang kemudian bermigrasi ke CDMA2000-1x, dan memulai meluncurkan produk Esia. Pada awalnya jaringan Esia hanya dapat dinikmati di Jakarta, Banten dan Jawa Barat, namun sampai akhir 2007 telah menjangkau 26 kota di seluruh Indonesia dan terus berkembang ke kota-kota lainnya.Pada tahun 2006, Bakrie Telecom telah go-public dengan mendaftarkan sahamnya dalam Bursa Efek Jakarta.

Layanan sambungan internasional
Pada 17 September 2007, pemerintah Indonesia memberikan lisensi atas jaringan tetap sambungan langsung internasional Indonesia kepada Bakrie Telecom. Sebagai bagian dari lisensi ini, Bakrie Telecom diharuskan membangun jaringan tetap untuk sambungan langsung internasional. Pada 5-tahun pertama, Bakrie Telecom diharuskan membangun jaringan yang menghubungkan Batam, Singapura, dan Amerika Serikat. Jika target ini tidak terpenuhi, pemerintah akan mendenda Bakrie Telecom. Dirjen Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar memperkirakan Bakrie akan dapat mengkomersialisasi layanan ini dalam tiga tahun ke depan.
B.ANALISA
Dalam hal ini yang dijadikan acuan paling penting adalah meminimalkan adanya resiko untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Biasanya individu tidak menyukai adanya risiko yang ada sehingga sebisa mungkin mereka ingin menghilangkan adanya resiko yang ada.
Maka investor membutuhkan adanya pengetahuan mengenai informasi bagaimana cara meminimalkan resiko sehingga menjadi maksimal keuntungan yang ada.
Analisa Rerata dan Standar Deviasi Return INTP dan Return IHSG
Return merupakan hasil yang diharapkan akan diperoleh di masa mendatang dari investasi dan untuk mendapatkannya biasanya akan disertai dengan berbagai macam risiko. Dengan menggunakan cara Analisis besarnya tingkat return dan risiko saham yang akan diperoleh dapat dengan membaca hasil perhitungan nilai return saham dan pasar.
Berikut cara mengukur tingkat return saham :
R_i= (〖Harga〗_t-〖Harga〗_(t-1))/〖Harga〗_(t-1)
Dengan cara diatas, penghitungan tingkat return saham INTP periode 1 Januari 2009 sampai 30 Oktober 2010 memberikan hasil yang berfluktuasi. Kinerja perusahaan juga harus dibandingkan dengan kinerja pasar, untuk melihat penyebab terjadinya pergerakan-pergerakan yang ada. Penilaian kinerja pasar dengan menghitung tingkat return pasar (IHSG).
Untuk menghitung tingkat return pasar tidak jauh beda dengan tingkat return saham, berikut cara yang digunakan :
R_m = (〖IHSG〗_t- 〖IHSG〗_(t-1))/〖IHSG〗_(t-1)
Dengan menggunakan rumus diatas, perhitungan nilai return pasar (IHSG) memberikan hasil yang berfluktuatif. Setelah mendapatkan nilai return saham dan return pasar, maka kedua nilai return tersebut dibandingkan dan diukur tingkat risiko dengan melihat nilai rata-rata dan Berdasarkan pembahasan sekilas mengenai teori beta saham, kami akan menganalisa tingkat risiko pada saham INTP dengan melihat pada nila beta. Analisis yang dilakukan dengan membaca hasil perhitungan secara regresi return saham INTP dan return pasar, IHSG.
Alat yang digunakan untuk melakukan perhitungan regresi dengan menggunakan program Eviews3.0. Data yang digunakan untuk menganalisa dari nilai return saham INTP dan nilai return pasar (IHSG) selama periode 1 Januari 2009 sampai 31 Oktober 2010 standar deviasi kedua hasil return.
Dari hasil perhitungan regresi didapatkan nilai koefisien variabel dependen (return saham INTP) dan variabel independen (return IHSG), sehingga dapat dimasukkan ke dalam persamaan sebagai berikut :
Ri = αi + βi *Rm + ei
Ri = 0,0009 + 1,0228 Rm + ei
Keterangan :
Ri = variabel dependen (return saham)
Rm = variabel independen (return IHSG)
α = intercept
β = koefisien regresi (mewakili nilai Beta)
ei = error
Alpha (α) adalah menunjukkan selisih antara hasil investasi aktual dengan hasil investasi yang diharapkan atau tolak ukurnya untuk level risiko pasar (beta) tertentu. Nilai alpha positif menggambarkan bahwa kinerja portofolio investasi lebih baik daripada perkiraan sebelumnya, sedangkan nilai alpha negatif menunjukan kondisi sebaliknya, yaitu portofolio investasi kurang baik dibandingkan dengan tolok ukurnya. Pada hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai alpha sebesar 0,08768, bernilai positif. Nilai yang positif menggambarkan kinerja portofolio yang saat ini memiliki investasi yang lebih baik daripada sebelumnya.
Nilai beta dari hasil perhitungan analisa regresi didapatkan sebesar 1,245673. Nilai beta saham INTP lebih besar dari 1, sehingga tingkat fluktuasi saham INTP diatas pasar secara keseluruhan. Nilai koefisien beta sebesar 1,245673 berarti kenaikan pasar IHSG sebesar 100% akan mengakibatkan kenaikan saham INTP sebesar 124,57%. (dapat dilihat di Grafik 1)
Berdasarkan nilai beta, saham INTP tergolong kelompok saham yang agresif dan sensitif terhadap perubahan pasar. Beta saham yang tinggi menunjukkan tingkat resiko suatu saham yang tinggi dengan tingkat return yang tinggi pula, sebab tingkat resiko berjalan selaras dengan tingkat return.


Dari hasil perhitungan regresi didapatkan nilai koefisien variabel dependen (return saham INTP) dan variabel independen (return IHSG), sehingga dapat dimasukkan ke dalam persamaan sebagai berikut :
Ri = αi + βi *Rm + ei
Ri = 0,0009 + 1,0228 Rm + ei
Keterangan :
Ri = variabel dependen (return saham)
Rm = variabel independen (return IHSG)
α = intercept
β = koefisien regresi (mewakili nilai Beta)
ei = error
Alpha (α) adalah menunjukkan selisih antara hasil investasi aktual dengan hasil investasi yang diharapkan atau tolak ukurnya untuk level risiko pasar (beta) tertentu. Nilai alpha positif menggambarkan bahwa kinerja portofolio investasi lebih baik daripada perkiraan sebelumnya, sedangkan nilai alpha negatif menunjukan kondisi sebaliknya, yaitu portofolio investasi kurang baik dibandingkan dengan tolok ukurnya. Pada hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai alpha sebesar 0,08768, bernilai positif. Nilai yang positif menggambarkan kinerja portofolio yang saat ini memiliki investasi yang lebih baik daripada sebelumnya.
Nilai beta dari hasil perhitungan analisa regresi didapatkan sebesar 1,245673. Nilai beta saham INTP lebih besar dari 1, sehingga tingkat fluktuasi saham INTP diatas pasar secara keseluruhan. Nilai koefisien beta sebesar 1,245673 berarti kenaikan pasar IHSG sebesar 100% akan mengakibatkan kenaikan saham INTP sebesar 124,57%. (dapat dilihat di Grafik 1)
Berdasarkan nilai beta, saham INTP tergolong kelompok saham yang agresif dan sensitif terhadap perubahan pasar. Beta saham yang tinggi menunjukkan tingkat resiko suatu saham yang tinggi dengan tingkat return yang tinggi pula, sebab tingkat resiko berjalan selaras dengan tingkat return.


Sabtu, 28 Agustus 2010

identifikasi dan resiko Waroeng Steak and Shake di Yogyakrta

Jogja merupakan kota yang unik dan mempunyai sejuta pesona keindahan. Diantaranya sebagai Kota Kuliner. Salah satu kuliner yang akan kita bahas kali ini adalah Waroeng Steak and Shake yang merupakan tempat yang favorit bagi para mahasiswa. Disini mahasiswa dapat menikmati masakanala steak dengan standar hotel bintang lima tapi harganya seperti harga warung.
Waroeng Steak and Shake didirikan oleh pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani tiga tahun silam di Yogyakarta,mereka bukan pelopor dari berdirinya usaha ini, mereka menekuni dan meneruskan bisnis dari uasaha orangtua Jody yang lebih dahulu membuka usaha Steak Obonk. Walaupun bukan pencetus pertama tapi mereka juga menghadapi banyak resiko, diantaranya mereka harus meninggalkan pendidikan bangku perkuliahan mereka.Mereka memutuskan untuk membuka bisnis kecil-kecilan dan memborong kaus untuk pemilu tahun 1999, dan hasil yang mereka peroleh digunakan sebagai modal utama untuk meneruskan dan mengembangkan usaha mereka.
Dalam resiko operasional Jody dan Anna tidak langsung mengikuti jejak sang ayah, mereka terlebih dahulu mempelajari ilmu yang dipakai sang ayah dalam mensuseskan usahanya. Awalnya mereka memanfaatkan teras rumah didepan kontrakan mereka sebagai langkah pertama.
Dalam memanfaatkan resiko ekonomi yang dihadapi, Jody dan Anni lebih cocok dengan menggunakan sistem cabang. Mereka takbermaksud untuk mewaralabakannya. Pengelolaannya cabang-cabangnya dipercayakan dengan kerjasama dengan keluarga sendiri. Yang jelas dalam waktu 8 bulan sudah dapat balik modal.
Begitulah Waroeng Steak and Shake berdiri dan dapat menarik minat para mahasiswa yang mereka bidik.