Sabtu, 28 Agustus 2010

identifikasi dan resiko Waroeng Steak and Shake di Yogyakrta

Jogja merupakan kota yang unik dan mempunyai sejuta pesona keindahan. Diantaranya sebagai Kota Kuliner. Salah satu kuliner yang akan kita bahas kali ini adalah Waroeng Steak and Shake yang merupakan tempat yang favorit bagi para mahasiswa. Disini mahasiswa dapat menikmati masakanala steak dengan standar hotel bintang lima tapi harganya seperti harga warung.
Waroeng Steak and Shake didirikan oleh pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani tiga tahun silam di Yogyakarta,mereka bukan pelopor dari berdirinya usaha ini, mereka menekuni dan meneruskan bisnis dari uasaha orangtua Jody yang lebih dahulu membuka usaha Steak Obonk. Walaupun bukan pencetus pertama tapi mereka juga menghadapi banyak resiko, diantaranya mereka harus meninggalkan pendidikan bangku perkuliahan mereka.Mereka memutuskan untuk membuka bisnis kecil-kecilan dan memborong kaus untuk pemilu tahun 1999, dan hasil yang mereka peroleh digunakan sebagai modal utama untuk meneruskan dan mengembangkan usaha mereka.
Dalam resiko operasional Jody dan Anna tidak langsung mengikuti jejak sang ayah, mereka terlebih dahulu mempelajari ilmu yang dipakai sang ayah dalam mensuseskan usahanya. Awalnya mereka memanfaatkan teras rumah didepan kontrakan mereka sebagai langkah pertama.
Dalam memanfaatkan resiko ekonomi yang dihadapi, Jody dan Anni lebih cocok dengan menggunakan sistem cabang. Mereka takbermaksud untuk mewaralabakannya. Pengelolaannya cabang-cabangnya dipercayakan dengan kerjasama dengan keluarga sendiri. Yang jelas dalam waktu 8 bulan sudah dapat balik modal.
Begitulah Waroeng Steak and Shake berdiri dan dapat menarik minat para mahasiswa yang mereka bidik.